Dimulai dari celoteh seorang kawan, "Eh ITB kita seperti emas di tumpukan sampah ya!". Sebuah lontaran kata-kata pendek, tapi mampu menggoncang 166 orang untuk menyadari sebuah ironi pelik. Ternyata yang menghiasi lingkungan kampus yang notabene merupakan kampus terbaik bangsa bukanlah sebuah industri komputer berteknologi tinggi seperti di MIT, bukan juga pabrik-pabrik kimia dan obat-obatan maju seperti di Jepang, serta bukan juga pusat manufaktur mobil atau pesawat canggih seperti Jerman, melainkan lingkungan yang berisi pengangguran, tumpukan sampah, dan dilengkapi kotoran kuda yang tersebar tak terkendali. Sungguh bukan lingkungan yang mencerminkan tempat munculnya orang-orang besar dan kaya raya seperti Ir. Soekarno, Aburizal Bakrie, atau Arifin Panigoro.
Seakan menambah ironi tersebut, semua daerah di sekitar ITB memiliki potensi terpendam yang dibiarkan kandas tanpa ada yang mengarahkan potensi tersebut agar bisa berdaya maksimal. Sebut saja kampung Bongkaran yang memiliki populasi pengangguran 1800 orang ternyata memiliki usaha tas berbahan dasar sampah plastik yang sayangnya karena tidak didukung dasar manajemen, ekonomi, dan pengertian terhadap pasar yang baik, walau memiliki produk yang bagus, terancam kandas. Selain itu, kampung Bongkaran memiliki penduduk yang berminat mempelajari seluk beluk komputer baik hardware maupun software.
Pertanyaan yang muncul adalah di mana mahasiswa ITB yang jago bisnis? Yang sering mendapat award di bidang komputer? Apakah mereka semua sibuk memperbaiki desa yang puluhan kilo jauhnya dari ITB sementara "halaman depan" mereka sendiri berantakan? Atau jangan-jangan mereka lupa bahwa tugas mahasiswa tidak hanya menjadi kaya, tapi menjamin orang di sekitar mereka ikut kaya, atau paling tidak jauh dari kemiskinan?
Proyek ini diharap mampu menjadi batu loncatan pertama dalam menciptakan lingkungan ITB yang mencerminkan kehandalan teknologi Indonesia, kepedulian mahasiswa pada bangsa, dan semangat juang warga Indonesia untuk membebaskan diri dari siklus kemerosotan.
Ketua Proyek Bongkar Bongkaran



No comments:
Post a Comment